Merokok Haram ?

Sosial No Comments »

Aku merasa bersyukur karena dilahirkan di keluarga yang tidak merokok. Ayahku tidak merokok dan kami 6 bersaudara perempuan semua yang pastinya tidak merokok. Itulah yang membuatku tidak suka dengan orang yang merokok. Walaupun sebenarnya semua kakak iparku perokok. Tapi untungnya mereka bisa menempatkan diri kapan dan dimana mereka merokok. Aku berharap suatu saat semua kakak iparku bisa berhenti merokok seperti ayahku yang tidak pernah merokok.

Aneh memang, semua tahu akibat mematikan dari rokok, tapi mereka tetap saja merokok. Bahkan perusahaan rokok terus tumbuh menjadi perusahaan yang dapat memberikan pajak dan bea cukai terbesar bagi Indonesia.
Read the rest of this entry »

Danamon Award : Penghargaan Bagi Para Pejuang Masa Kini

Sosial No Comments »

Seperti biasa, kalau hari sabtu aku bisa nonton TV di siang hari. Begitu juga tanggal 16 Agustus 2008. Pada pukul 13.30 aku menonton TransTV. Ternyata hari itu ada acara spesial yaitu ”Danamon Award”. Karena belum tahu sebelumnya, aku jadi penasaran. Apa gerangan ”Danamon Award” itu ?

Ternyata ”Danamon Award” itu adalah penghargaan yang diberikan oleh Bank Danamon kepada sebuah organisasi/lembaga/perusahaan maupun individu yang peduli pada pemberdayaan masyarakat disekitarnya. Bisa dibilang inilah bentuk penghargaan bagi para pejuang di masa kini.
Read the rest of this entry »

Chevron, MIGAS, dan BBM

Sosial 2 Comments »

Hari ini baru aku tahu apa itu perusahaan Chevron, alamat kantor nya, bagaimana megahnya gedung Main Office di Balikpapan dan besarnya gaji dan berbagai fasilitas yang diberikan. Tidak heran banyak orang mengidam-idamkan untuk bisa bekerja di sana.

Chevron yang notabene perusahaan yang bergerak dalam pengolahan MIGAS, menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam indonesia masih produktif sampai sekarang. Sayangnya tidak 100% hasil bumi kita dapat dinikmati oleh bangsa sendiri. Malahan mungkin lebih banyak yang dikirim keluar.

Read the rest of this entry »

Kosmetik yang Ga Bikin Cantik

Sosial 3 Comments »

Bukan hal biasa, bahwa sebuah kota besar pasti memiliki sisi lain yang tak luput dari sorotan. Adalah anak jalanan yang selalu menjadi hiasan di setiap kota besar.

Alasan mengapa saya memutuskan untuk kuliah di Jogja adalah karena Jogja merupakan kota yang bersih, nyaman dan tidak sesibuk Bandung ataupun Jakarta. Begitu pula dengan jumlah anak jalanannya.

Tahun 2002 saya mulai kuliah di Jogja. Waktu itu saya sangat kagum dengan kota ini, karena saya tidak menemukan pengamen maupun melihat anak jalanan di perempatan2 jalan. Namun seiring berjalannya waktu, saya tidak tahu tepatnya mulai tahun berapa, saya melihat satu, dua anak jalanan yang minta-minta di perempatan lampu merah. Bahkan pada tahun 2008 ini jumlahnya semakin banyak.

Misalnya saja, di pertigaan jl.kolombo, dimana sejak tahun 2003 s/d sekarang setiap pagi saya lewati, saya menemukan perubahan yang sangat signifikan. Dulu saya tidak melihat ada anak jalanan tidur di emperan toko Jl. kolombo, tapi sekarang, ketika saya lewat sekitar pukul 7.30 pagi, mereka masih tertidur pulas di sana. Dan jumlahnya terkadang lebih dari 6 orang dengan usia kira2 anak SLTP. Suatu pemandangan yang tidak cantik di kota se-nyaman Yogyakarta.

Bukan hanya di pertigaan kolombo, tapi di beberapa pertigaan/perempatan jalan di kota yogyakarta, anak jalanan seolah-lah sudah menjadi kosmetik baru kota ini. Dan kosmetik ini tidak membuat kota ini semakin cantik, malah semakin tidak elok di pandang mata.

Kota dengan julukan kota pelajar, kiranya tidak pantas masih terlihat anak-anak putus sekolah disini. Walaupun tidak semua anak yang minta2 dijalanan itu putus sekolah. Mereka turun ke jalanan sepulang sekolah, dengan alasan untuk biaya sekolah. Seharusnya Yogyakarta menjadi contoh untuk kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam penanganan anak jalanan.

Entah kapan kita dapat melihat kota-kota besar tanpa di hiasi anak jalanan.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Theme pack from WPMUDEV by Incsub.
Entries RSS Comments RSS Masuk log