Bukan hal biasa, bahwa sebuah kota besar pasti memiliki sisi lain yang tak luput dari sorotan. Adalah anak jalanan yang selalu menjadi hiasan di setiap kota besar.
Alasan mengapa saya memutuskan untuk kuliah di Jogja adalah karena Jogja merupakan kota yang bersih, nyaman dan tidak sesibuk Bandung ataupun Jakarta. Begitu pula dengan jumlah anak jalanannya.
Tahun 2002 saya mulai kuliah di Jogja. Waktu itu saya sangat kagum dengan kota ini, karena saya tidak menemukan pengamen maupun melihat anak jalanan di perempatan2 jalan. Namun seiring berjalannya waktu, saya tidak tahu tepatnya mulai tahun berapa, saya melihat satu, dua anak jalanan yang minta-minta di perempatan lampu merah. Bahkan pada tahun 2008 ini jumlahnya semakin banyak.
Misalnya saja, di pertigaan jl.kolombo, dimana sejak tahun 2003 s/d sekarang setiap pagi saya lewati, saya menemukan perubahan yang sangat signifikan. Dulu saya tidak melihat ada anak jalanan tidur di emperan toko Jl. kolombo, tapi sekarang, ketika saya lewat sekitar pukul 7.30 pagi, mereka masih tertidur pulas di sana. Dan jumlahnya terkadang lebih dari 6 orang dengan usia kira2 anak SLTP. Suatu pemandangan yang tidak cantik di kota se-nyaman Yogyakarta.
Bukan hanya di pertigaan kolombo, tapi di beberapa pertigaan/perempatan jalan di kota yogyakarta, anak jalanan seolah-lah sudah menjadi kosmetik baru kota ini. Dan kosmetik ini tidak membuat kota ini semakin cantik, malah semakin tidak elok di pandang mata.
Kota dengan julukan kota pelajar, kiranya tidak pantas masih terlihat anak-anak putus sekolah disini. Walaupun tidak semua anak yang minta2 dijalanan itu putus sekolah. Mereka turun ke jalanan sepulang sekolah, dengan alasan untuk biaya sekolah. Seharusnya Yogyakarta menjadi contoh untuk kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam penanganan anak jalanan.
Entah kapan kita dapat melihat kota-kota besar tanpa di hiasi anak jalanan.
Berbagi